- Kondisi bawah permukaan Hutan Malabar diduga tersusun atas tufa lanauan, tufa pasiran dan lanau lempungan. Tufa lanauan berada pada lapisan paling atas memiliki kemampuan menyerap air (infiltrasi) yang bagus. Di bawah lapisan ini ada tufa pasiran yang kemampuan infiltrasinya jauh lebih baik dari pada tufa lanauan. Lapisan berikutnya adalah tufa lanauan, lapisan ini akan sedikit menahan air yang terserap sebelum masuk kedalam sistem akuifer yang lebih dalam.
- Hasil uji infiltrasi dari tiga titik yang saya ambil, menyatakan dua titik memiliki kemampuan infiltrasi permukaan sangat cepat, dan satu titik yang lain termasuk dalam klasifikasi agak cepat.
- Penetapan dan pemilihan Hutan Kota Malabar sebagai daerah resapan air sudah tepat karena terbukti memiliki kemampuan yang sangat baik dalam menyerap air permukaan, dan hasil pendugaan bawah permukaannya juga sangat mendukung fungsinya sebagai daerah resapan air.
Sunday, 6 September 2015
Jangan Rusak Hutan Kota Malabar Kami
Thursday, 25 December 2014
Kekasih Hati
Ribuan dinamit tlah meledak
Triliunan sinyal tlah tercetak
Lautan kringat tlah terserak
Bumi bergetar
Reflektor tergambar
Bayangmu memancar
Mataku berbinar
Memandangmu...
Menyejukkan hati
Membangkitkan aksi
Meraih sejuta mimpi
Engkaulah kekasih hati
Friday, 26 April 2013
HAND WALKMAN
"Di sana pak dapat sinyal, saya barusan telpon ke rumah
!".
Siang itu seorang kawan memberitahu saya dengan begitu antusiasnya. Wajahnya cerah, secerah wajah anak kecil yang baru saja dibelikan mainan baru oleh bapaknya. Siang yang panas terasa sejuk baginya. Tak terlihat rasa lelah meskipun peluh mengucur diwajahnya.
Siang itu bisa jadi hari yang sangat istimewa. Semua wajah teman-teman yang saya temui tampak sumringah. Bak pepatah panas setahun dihapus hujan sehari.
Penantian panjang selama hampir setahun terbayar lunas sudah.
Diabad 21 saat zaman serba komputer ternyata masih juga ada wilayah bangsa ini yang terputus dari dunia luar. Satu-satunya alat penghubung dengan dunia luar adalah sebuah wartel yang untuk bisa berbicara selama semenit harus merogoh saku sampai lima ribu rupiah. Padahal di belahan bumi yang lain, cukup dengan seribu rupiah sudah bisa bertelpon ria sampai telinga panas. Benar-benar ongkos komunikasi yang mahal dizaman gadget yang serba canggih ini.
Saya pun sempat bertanya pada salah satu teman, "berarti orang-orang nggak kenal HP dong?". "Jangan salah pak, orang sini sudah pegang HP semua, cuman bukan buat telpon atau sms -karena tidak ada sinyal- tapi dipakai buat dengerin musik", seorang teman menjelaskan pada saya. Hmm... bukan HP lagi harusnya, tapi HW - Hand Walkman ;-).

