Tuesday, 9 March 2010

Kawan Lama

Roda waktu terus berputar. Tak terasa perubahan tlah terjadi dimana-mana. Bahkan kita pun ikut mengalami perubahan-perubahan itu. Walaupun terkadang tidak kita sadari.

Alhamdulilah, saya berkesempatan bersilaturahim dengan beberapa orang teman yang sudah hampir 4-5 tahun tidak pernah bertemu. Banyak perubahan yang terjadi dengan mereka. Sudah berkeluarga, ada si junior dan juga kegiatan sehari-harinya yang menarik.

Sholikin, dia adalah senior saya waktu di bangku kuliah. Banyak hal yang saya dapat dan pelajari darinya waktu kuliah dulu. Saya terakhir ketemu sekitar 2004 - 2005. Sekarang dia berbisnis Bakso Solo di kota minyak Balikpapan.



Abror, teman senasib waktu masih kuliah dulu. Teman dekat yang sangat baik, dan merupakan sumber inspirasi dari semangatnya untuk hidup mandiri. Kini sudah menjadi seorang enterprenuer yang bisa dibilang sukses. Bangga sekali punya teman seperti dia.




Kalau yang satu ini adalah seorang ibu rumah tangga. Banyak aktifitas kuliah yang kami lakukan bersama, karena kebetulan kami di konsentrasi yang sama. Baik kegiatan di kampus, maupun aktifitas di lapangan. Teman yang sangat seru.



Kini, mereka telah berkeluarga dan memiliki seorang anak. Bahagia sekali bisa singgah untuk menyaksikan senyum mereka lagi walau hanya beberapa saat saja. Semoga Allah menjadikan kalian keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah kawan.

Tuesday, 9 February 2010

Ziarah Wali

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan untuk berziarah ke makam wali yang ada di Gresik. Ada dua makam yang saya kunjungi, yaitu makam Sunan Giri dan makam Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Mereka adalah sebagian dari anggota "Wali Songo" atau Wali Sembilan.

Wali Songo adalah kelompok para Ulama yang sangat berjasa besar dalam penyebaran agama islam khususnya di Pulau Jawa. Sesuai dengan namanya maka terdapat sembilan orang ulama, yaitu :
  1. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)
  2. Sunan Ampel
  3. Sunan Giri
  4. Sunan Bonang
  5. Sunan Drajat
  6. Sunan Kudus
  7. Sunan Kalijaga
  8. Sunan Muria
  9. Sunan Gunung Jati
Ziarah saya awali dengan ke makam Sunan Giri. Lokasinya seperti di atas bukit. Jadi kita harus naik beberapa anak tangga yang di kanan dan kirinya adalah kompleks makam. Disepanjang tangga dimanfaatkan pula oleh para pedagang untuk menggelar dagangan sebagai oleh-oleh para peziarah. Ada macam-macam barang, seperti pakaian batik, perlengkapan sholat dan makanan khas giri (Gresik).



Hari itu peziarah sangat ramai, mungkin karena hari libur atau memang setiap hari ramai seperti itu saya kurang paham. Makam Sunan Giri sendiri berada dalam sebuah bangunan persegi berdinding ukiran kayu dengan pintu kecil di depan. Saya harus antri untuk bisa masuk ke dalam agar bisa mendekat ke makam sang sunan. Saking ramainya peziarah, di dalam terasa pengap sehingga saya tidak bisa berlama-lama sekaligus memberi kesempatan pada para peziarah yang lain.



Berikutnya perjalanan saya lanjutkan ke makam Sunan Gresik atau terkenal dengan Maulana Malik Ibrahim. Tidak jauh beda dengan di giri, suasana disini juga penuh para peziarah. Alhamdulilah setelah mengambil wudhu, dan mencari tempat akhirnya saya bisa mendapatkan tempat di dekat makam Sunan Gresik. Disini lebih enak daripada di giri, karena makam berada di tempat terbuka, sehingga angin bisa leluasa bertiup. Di kompleks makam Sunan Gresik juga terdapat makam Bupati Gresik yang pertama yaitu Kyai Toemenggoeng Poespo Negoro I.



Alhamdulilah akhirnya perjalanan ziarah kali ini berjalan dengan lancar. Walaupun hanya dua orang wali Allah yang dapat saya ziarahi, mudah-mudahan dilain kesempatan saya bisa berziarah ke wali-wali Allah yang lain. Semoga Allah swt senantiasa melimpahkan kebaikan bagi mereka semua. Amiin.

Sunday, 10 January 2010

Buah Lay

Mungkin sebagian dari kita masih asing dengan nama buah yang satu ini. Tapi tidak bagi warga Samarinda Kalimantan Timur. Buah lay adalah salah satu buah favorit dengan harga yang tak kalah dibandingkan buah berkelas lainnya.

Kebetulan sekali, bulan ini -Januari- adalah musim buah lay. Sepanjang perjalanan dari Samarinda menuju Balikpapan, banyak sekali para penjual buah lay di pinggir-pinggir jalan. Saya pun tergoda dan menyempatkan diri untuk mencicipi buah ini.



Warna kulitnya agak kuning pucat, penuh dengan duri. Sekilas pasti disangka durian. Memang secara fisik, buah lay mirip sekali dengan durian. Buah ini memiliki nama latin Durio kutejensis, orang-orang Dayak biasa menyebutnya dengan Lahong/Lahung/Layung. Daging buah lay berwarna oranye. Tapi katanya ada juga yang berwarna merah. Kebetulan yang saya dapatkan adalah yang berwarna oranye. Soal rasa, tak kalah dengan durian. Manis. Kalau Gnaro Ngalam (orang Malang) bilang "kanelop" alias enak pol. Sampai-sampai bule diseberang jalan pun keasyikan menikmati kelezatan buah ini.